JAKARTA - Kombes Johnny Eddizon Isir dipilih menjadi ajudan Presiden RI Joko Widodo. Bagi Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Johnny memberikan nilai tersendiri bagi Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

"Saya sangat bersyukur dan bangga karena yang terpilih oleh Bapak Presiden, anak putra Papua. Jadi saat ini yang terpilih oleh Presiden adalah Johhny Eddizon Isir yang merupakan anak Papua. Ini memberikan bonus tersendiri bagi Polri," terang Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (17/8/2017).

Menjadi seorang ajudan presiden bukanlah hal yang mudah. Sebab, ajudan yang melekat dengan presiden ini adalah orang-orang pilihan yang memenuhi kriteria.
"Menjadi ajudan presiden tidak gampang, memang harus benar-benar orang yang terpilih. Pertama, dia harus bisa satu chemistry dan nge-klik sama presiden," ungkapnya.

Tito sekali pun belum pernah menjadi ajudan presiden. "Sehingga tidak gampang dapat kesempatan itu. Saya saja tidak seberuntung Johnny," katanya.

Bukan hanya faktor keberuntungan. Johnny sendiri termasuk salah satu anggota Polri yang berprestasi. Bahkan, Johnny merupakan lulusan Akpol 1996 yang satu-satunya peraih Adhimakayasa dari Papua.

"Yang bersangkutan memang nomor satu di Akpol dan itu sejarah pertama dalam akademi Polri dan TNI, anak Papua juara nomor satu Adhimakayasa," sambungnya.

Tito juga memuji Jhonny. Menurutnya, mantan Direktur Reskrimsus Polda Riau itu juga termasuk yang berprestasi.

"Johnny ini prestasi lapangan memang bagus dulu di Jatim, di Papua saat saya Kapolda, (Johnny) dua kali Kapolres di Wamena dan Manokwari," tuturnya.

Johnny juga memiliki intelektual yang bagus. Secara akademis, Johnny meraih gelar marsternya di Wollongo University, Sidney, Australia. "Yang ketiga, secara intelektual dia pemegang master dari universitas di Sidney. Dia mendapatkan gelar master di sana," cetusnya.

Tito pun bersyukur karena Jokowi akhirnya menambatkan pilihannya itu kepada Johnny. Ia berpendapat, Presiden Jokowi ingin menunjukkan jiwa nasionalismenya, sekaligus kecintaan dirinya terhadap Papua yang daerahnya terpencil.

"Itu menujukan ke-nasionalisme-an beliau. (Bahwa) Warga Papua juga warga Indonesia, kemudian kita lihat bapak presiden sangat nasionalis beliau tidak melihat latar belakang agamanya. Walau beda keyakinan tetap memilih sebagai ajudan," paparnya.

"Ini yang membuat kita bangga kepada Indonesia, walaupun kita beda-beda dan beragam, tetap satu Indonesia," tandas Tito.  (blogerpolri)
Loading...

Artikel Terkait

Posting Komentar

 

media online www.tribunus.co.id

.