Loading...

Tak Punya Biaya, Penderita Tumor Ganas Ini Butuh Bantuan Para Dermawan

Loading...
TRIBUNUS.CO.ID - SAMBAS,  Malang benar nasib pemuda bernama Mauliandi warga dusun Pagong desa Gugah kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas ini, kini membuatnya terkulai lemah, tak bisa melaksanakan kegiatan sehari-hari sebagaimana rekan sebayanya, hanya bisa berada di rumah merasakan sakit pada bahu sebelah kanannya.

"Anak saya ini lulusan SMK. Jadi seperti teman-teman seusianya, dia sebenarnya juga kuat ingin melanjutkan pendidikan, agar bisa bekerja lumrah dan bisa membantu kami orangtuanya," ungkap orang tua Maliandi  dikonfirmasi, Jumat (17/11/2017).

Bapak dari Maulandi, Pria berusia 51 tahun ini mengisahkan, bahwa anaknya tersebut berawal saat kecelakaan kecil, Mauliandi terus merasakan kesakitan di bahu kanannya. Luka itu semakin parah hingga saat ini.

Pihak keluarga tak berpangku tangan, segala upaya dan daya dikerahkan demi kesembuhan anak keduanya tersebut. Orang tua Maulandi sudah berupaya mengobati luka Maulandi tentu saja semampu keluarga Maulandi

"Kecelakaan diawali, pada tahun 2015 anak saya sedang bersepeda. Kemudian terjatuh dan cidera biasa. Kami sebenarnya tidak menduga ini akan menjadi awal dari penyakit yang membuatnya sampai seperti ini," jelas Rabuan suami dari Rustinah ini.

Karena ekomomi yang pas-pasan Keluarga mengobati luka anaknya tersebut dengan cara tradisional. Karena ketika itu pihak keluarga hanya berpikir cidera yang dialami Mauliandi, luka biasa yang dialami jika seseorang mengalami kecelakaan kecil, keluarga beranggapan sebentar saja sudah sembuh kembali.

"Kami di kampung ini, seperti biasalah, dengan pengobatan tradisional. Jadi Mauliandi kami bawa ke tukang urut. Sudah beberapa tempat yang kami datangi untuk mengurut bahunya yang tampak mulai membengkak, dan sedikit terlihat ada benjolan," terangnya.

Lantaran tak kunjung membuahkan hasil dengan membawa Mauliandi berobat ke tukang urut tradisional. Rabuan terus berusaha dengan membawa anaknya ini ke pengobatan tabib.

"Mauliandi kami bawa juga ke tabib, tapi kemudian tabib tersebut menyarankan agar Mauliandi dibawa ke rumah sakit saja, karena benjolannya tampak tidak biasa," ujarnya pria yang bekerja sebagai tenaga kontrak PLN Pemangkat ini.

Keluarga kemudian membawa Mauliandi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pemangkat, untuk memeriksakan cidera di bahu Mauliandi. Usai diperiksa dokter RSUD Pemangkat, dokter menyarankan untuk dilakukan  operasi pada

"Dokter bilang, Mauliandi harus segera dioperasi, untuk mengeluarkan lendir yang ada dibahunya. Jadi waktu itu, operasinya ditanggung BPJS," ungkapnya.

Tak seberapa lama, operasi kecil pun dilakukan, dengan tujuan untuk membuang lendir di bahu Mauliandi.

Namun, menurut kisah Rabuan, dokter yang mengoperasi kebingungan. Karena dokter sama sekali tidak menemukan lendir yang dimaksud, tetapi justru menemukan daging yang tumbuh dibalik benjolan di bahu Mauliandi.

"Jadi, dokter tidak menemukan lendir, yang ada adalah daging. Dokter kemudian mengambil sedikit daging tersebut lalu di kirim ke Pontianak untuk dipastikan. Luka operasi kecil itu kemudian dijahit kembali," paparnya.

Betapa terkejutnya Rabuan, setelah mengetahui hasil pemeriksaan dari daging yang di kirim ke Pontianak. Mauliandi divonis terserang tumor ganas.

"Hasil pemeriksaan sampel daging yang di kirim ke Pontianak mengatakan anak saya terkena tumor ganas. Pertumbuhan tumornya pun sangat cepat, bahkan tumornya sampai meretas jahitan bekas operasi sebelumnya," ungkapnya.

Mengetahui hasil tersebut, Mauliandi kemudian dibawa ke RSUD Abdul Azis Singkawang. Namun pihak RSUD saat itu mengatakan tak dapat menangani penyakit yang diderita Mauliandi. Mauliandi kemudian dibawa ke RSUD dr Soedarso di Pontianak.

"Nah, di Pontianak juga sama, mereka menyarankan untuk kemoterapi ke rumah sakit di Jakarta. Informasi saat itu, biayanya sekitar Rp 25 juta untuk sekali kemoterapi. Kami tentunya tak punya biaya untuk itu,"ujarnya.

Lantaran keterbatasan biaya serta minimnya bantuan, Rabuan terpaksa hanya bisa mengobati Mauliandi pada sebuah klinik di Pontianak. Yang menurut kisahnya, dibutuhkan biaya lebih dari Rp 100 ribu per hari untuk merawat Mauliandi.

Apalah daya Rabuan yang hanya berpenghasilan sebagai seorang tenaga kontrak. Pun demikian dengan istrinya, yang sehari-hari hanya meraup rezeki dari usaha berjualan nasi kuning di warung depan rumahnya.

Doa dari keluarga, teman dan kerabat terus dipanjatkan untuk kesembuhan Mauliandi. Begitu pula upaya pihak keluarga dengan segala keterbatasan terus dilakukan.

Namun uluran tangan para dermawan dan perhatian semua pihak sangat dibutuhkan keluarga Rabuan, untuk terus memberikan semangat kesembuhan bagi Mauliandi.



Uluran tangan para dermawan dapat disalurkan langsung melalui rekening Bank BRI, dengan nomor rekening 0568-01-001877-50-3 atas nama Rabuan. Dan nomor HP Rabuan 085245078592 (jack)
Posting Komentar