loading...
Foto ilustrasi Hengki dan jimatnya

PALEMBANG,TRIBUNUS.CO.ID -Mesteri penangkapan Hengki si pembunuh sopir taksol Try Widiantoro (43). Dengan kerja keras direktorat reserse kriminal umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan, membawa petugas ke satu titik dimana titik tersebut sebuah rumah setengah jadi di Brebes.

Dengan satu tembakan Petugas satuan ditreskrimum Polda Sumsel mengiringi tewasnya Hengki Sulaiman salah satu tersangka pembunuh sopir taksol Try Widiantoro yang meng hebokan waktu lalu. Polisi mendapat informasi kalau Hengki memiliki ilmu kebal dan bisa menghilang. Itu karena dia memiliki dua jimat berbentuk keris kecil bewarna hitam dan kuning, yang dibalut selembar kain.

Tim pemburu Hengki dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan, sudah mengetahui itu. Untuk mengantisipasi berfungsinya ilmu kebal dan ilmu menghilang pelaku, pada malam sebelum menggerebek Hengki di tempat pelariannya di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Rabu malam (11/4) polisi melakukan salat tahajud bersama.

Setelah itu, petugas langsung bergerak menuju ke sebuah rumah setengah jadi di Brebes yang diduga keras merupakan tempat Hengki bersembunyi.

Benar saja, saat hendak ditangkap, Hengki yang sedang santai di rumah itu langsung berusaha kabur dengan membawa dua jimat yang dia miliki tersebut.

Sayang, kedua jimat Hengki tampaknya tak berfungsi, sehingga nyawa pemuda itu pun berakhir di ujung pistol petugas. Saat tertembak, polisi menemukan dua jimat itu.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara Sabtu (14/4) mengatakan, malam sebelum penangkapan petugas shalat tahajud bersama. “Alhamdulilah dapat petunjuk untuk menangkap Hengki. Memang benar, pelaku ini punya dua jimat yang diyakininya bisa kebal dan menghilang,” kata Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

Jimat yang diyakini Hengki sebagai ilmu kebal itu berukuran kecil dan berbentuk agak bulat mirip gunungan wayang kulit dengan memiliki gagang.

Sedangkan jimat menghilang yang ia yakini bewarna hitam berbentuk segitiga.

“Dari informasi, pelaku meyakini kalau jimat itu berfungsi. Tapi alhamdulilah ternyata tidak berfungsi kepada polisi,” ujar Kapolda Sumsel.

Hengki tewas setelah satu butir peluru polisi menembus dadanya lantaran mencoba kabur saat akan ditangkap.

Bukan hanya Hengki, rekannya, Poniman (20) telah lebih dulu tewas ditembak karena melawan petugas saat dilakukan penangkapan.

Komplotan Hengki ini merupakan pelaku atas tindak perampokan dan pembunuhan yang cukup menggemparkan kota Palembang dan sekitarnya terhadap Tri Widyantoro, sopir taksi online.

Setelah hampir lebih dari 40 hari Jasad Tri kemudian ditemukan tinggal tulang belulang di semak-semak di wilayah Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

Selain Hengki dan Poniman, dua rekannya yang lain ditangkap dalam keadaan hidup. Mereka adalah Bayu irmansyah (20) dilumpuhkan dengan tembakan sebanyak 10 lubang di kedua kakinya.

Dan seorang pelaku lagi, yakni Tyas Dryantama (19), yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sriwijaya menyerahkan diri setelah mendapatkan imbauan dari Kapolda Sumsel.(krkt/rn)
loading...

Artikel Terkait

Posting Komentar

 

media online tribunus

.