loading...

Panglima militer Hamas, Mohammed Deif dan wakilnya, Marwan Issa termasuk di antara individu terpenting yang menjadi incaran agen-agen Israel. Setelah  Rezim Zionis Israel menerbitkan daftar baru nama beberapa komandan Brigade Ezzedine Qassam, sayap militer Hamas, yang masuk dalam target perburuan mereka.

Dalam 17 bulan terakhir, Israel dengan penuh leluasa melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina. Ini terjadi setelah Donald Trump berkuasa di Amerika Serikat. Presiden Trump tidak hanya mendukung kejahatan Israel, tetapi juga tidak mengindahkan hukum internasional dan lembaga-lembaga dunia terutama PBB.

Dalam demonstrasi yang dimulai pada 30 Maret saja, 112 warga Palestina gugur syahid dan sekitar 13.000 lainnya terluka. 13 dari mereka yang gugur dan 2.100 yang terluka adalah anak-anak.

Penerbitan daftar teror bukanlah masalah baru dan selama 70 tahun sejak pendudukan Palestina, rezim Zionis telah meneror puluhan komandan militer, tokoh politik, dan ilmuwan dari Palestina, Lebanon dan Iran. Kasus terbaru adalah pembunuhan Fadi al-Batsh, ilmuwan Palestina oleh agen Israel pada 21 April 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Model pembunuhan seperti ini melambangkan “terorisme negara” yang dipelopori oleh Israel. Dinas Intelijen Israel (Mossad) adalah satu-satunya badan mata-mata dunia yang memiliki unit spesialis pembunuh dan sabotase yang disebut Kidon. Unit Kidon secara luas melancarkan operasi teror di berbagai belahan dunia, terutama di Palestina, Lebanon, dan Iran.

Unit Kidon akan membunuh orang-orang yang telah diidentifikasi oleh Mossad dan namanya masuk dalam daftar teror.

Pakar intelijen Israel dan penulis buku ‘Rise and Kill First’, Ronen Bergman menyamakan unit Kidon sebagai organisasi intelijen yang menyelinap di dalam Mossad. Dia mengakui bahwa para agen Kidon dilatih di tempat yang dirahasiakan untuk menculik, melakukan sabotase, dan meneror, dan bahkan para pegawai Mossad juga tidak mengenali mereka.

Nama para komandan militer Hamas bukan kali pertama muncul dalam daftar teror Israel, tetapi nama mereka sudah lama tercantum di sana, hanya saja unit teror Israel sampai sekarang belum berhasil membunuh orang-orang tersebut.

Upaya membunuh Mohammed Deif sudah berkali-kali dilakukan Israel, tetapi selalu gagal. Pada musim panas 2014, Israel melancarkan serangan teror terhadap Deif, yang mengakibatkan istri dan anaknya terbunuh, sedangkan Deif selamat dalam serangan itu.

Israel menganggap dirinya akan eksis jika sukses meneror para komandan militer, tokoh politik, dan ilmuwan Palestina. Untuk menutupi aksi keji ini, Israel dan AS malah menuduh negara lain dan poros perlawanan seperti, Hizbullah Lebanon dan Hamas sebagai teror. (ft/int/es)


loading...

Artikel Terkait

Posting Komentar