Pembekalan Calon Taruna Akademi Militer Dan Akpol Oleh Panglima TNI Dan Kapolri


JAKARTA  - Ratusan calon Perwira Remaja Tahun 2018 yang terdiri dari Akademi TNI 446 orang ( TNI AD : 225 orang, TNI AL : 102 orang, TNI AU : 119 orang ) dan Akademi Kepolisian 278 orang menerima pembekalan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjo dan Kapolri Jenderal Pol Prof Tito Karnavian,P.hD, Rabu (18/7).

Pembekalan dilakukan di Gedung Olahraga Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap dan dihadiri oleh kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Siwi Sukma Adji,SE, MM, Kepala Staf Angkatan Laut Marsekal TNI Yuyu Sutisna, SE, S.Sos, MM, Danjen Akademi TNI Laksamana Madya TNI Aan Kurnia,S.Sos beserta Pejabat Utama TNI lainnya, Kalemdiklat Polri Komjen Pol Drs.Unggung Cahyono beserta Pejabat Utama Mabes Polri Lainnya, dan Para Gubernur Akademi.


Acara diawali dengan laporan Capaja Angkatan Darat kepada Kapolri yang dilanjutkan dengan kata pengantar dan pembacaan riwayat hidup Kapolri oleh Danjen Akademi TNI.


Kapolri Jenderal Pol Prof H Tito Karnavian,P.hD dalam arahanya menyampaikan pentingnya TNI/Polri harus solid sehingga pada hari ini adik-adik dikumpulkan disini, Sebagai seorang sarjana adik-adik harus berfikir kritis.


" Apakah negara Indonesia berpotensi untuk pecah? Keberagaman Indonesia masih bersatu karena sumpah pemuda 1928 & proklamasi kemerdekaan 1945, dengan memiliki 714 suku dan 1.100 bahasa daerah," jelaz Kapolri.


Dikatakan Kapolri, Indonesia memiliki potensi untuk pecah yaitu karena masalah faktor ekonomi kita belum mampu membangun kesejahteraan, Indonesia masih didominasi oleh kelompok low class. Dibandingkan dengan Singapore disana kelas menengahnya lebih besar, negara yang kuat adalah negara yang midle class nya besar.


Selanjutnya, Ditambahkan Kapolri,Yang kedua adalah faktor ekternal politik Internasional dunia. Di Indonesia Demokrasi ini sudah masuk dan terjadilah euforia dan sebenarnya ini membahayakan bagi Indonesia. Ini dapat menyebabkan konflik hotizontal di kalangan bawah karena ini memberikan ruang untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat dimuka umum.


"Dan ini berpotensi untuk berkembangnya ideologi radikal yang berlawanan dengan pancasila. Demokrasi yang terlalu bebas memiliki dampak positif dan negatifnya solusinya adalah kembali ke Demokrasi Pancasila dengan prinsip prinsip kepancasilaan, terang Kapolri.

Kapolri juga menekankan, Seorang pemimpin harus memiliki power, follower dan konsep. Selain metodelogi dan referensi kita butuh dengan knowledge. Pengetahuan ini bisa kita dapatankan dengan pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Silahkan jangan berhenti di StrK ambil jenjang pendidikan yang lainnya, teman angkatan kalian hari ini akan menjadi lawan kompetisi kedepannya yang semakin transparan.


Sementara itu,Panglima TNI menyampaikan mengikuti pendidikan di Akademi tidaklah mudah harus mengikuti segala aturan. Capaja kalian harus menjadi perwira yang pintar, modern, dan militan. Besok kalian akan diliantik oleh presiden menjadi seorang perwira maka kalian akan menjadi seorang pemimpin.

"Jangan pernah berhenti utuk belajar dan berlatih karena suatu saat nanti kalian akan menggantikan kami. Revolusi industri 4.0 banyak membawa perubahan antara lain ancaman cyber dan rekasaya biologis," terang Panglima.


Diakhir penekananya, Panglima mengatakan Sinergitas TNI-Polri harus tetap solid dalam menjaga keutuhan NKRI dan itu dapat kami buktikan dalam penyelenggaraan Pilkada 2018. Sebentar lagi kita akan melaksanakan perhelatan akbar asian games, pertemuan IMF dan world Bank, Tahapan Pemilu 2019 TNI-Polri tidak boleh lengah.
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.