Dua Bulan Beroperasi, Limbah Perusahaan Tektil Mahatex Indonesia Jaya Dikeluhkan Warga




KEDIRI, TRIBUNUS.CO.ID - Perusahaan tektil Mahatex Indonesia Jaya yang berdiri di wilayah Kecamatan Badas Kabupaten Kediri Jawa Timur tepatnya di Dusun Blembem Desa Badas Kecamatan Badas, sejak beroperasi 2 bulan ini mulai dikeluhkan warga, khususnya warga yang tinggal dilingkungan pabrik .

Warga mengeluhkan terkait adanya limbah yang dikeluarkan dari perusahaan tersebut karena dampaknya mencemari sumber mata air warga, seperti sumur beberapa warga yang dekat dengan perusahaan tersebut mulai berbau tidak sedap sehingga terpaksa sebagian warga menutup sumurnya dan membuat sumur baru.

"Kami terpaksa menutup sumur kami mas karena tidak layak dikonsumsi, aroma airnya sudah banger, dan saya harus mengeluarkan biaya untuk beli air galon untuk kebutuhan minum sehari hari, "kami berharap dari Dinas terkait bisa melakukan upaya agar limbah yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut tidak meresap ke sumur warga"Ucap warga yang tidak mau disebutkan namanya kepada tribunus.co.id.


Ditempat terpisah,warga yang juga tinggal dekat dengan perusahaan tersebut ,mengeluhkan limbah berupa kotoran debu yang berwarna hitam yang berasal dari cerobong pembakaran bahan tektil perusahaan tersebut, dimana warga setiap jam harus membersihkan lantai rumahnya. Yang paling parah adalah bagi rumah warga yang tidak memiliki plafon (atap)  sehingga debu tersebut setiap detiknya masuk kedalam rumah melalui atap.

Sementara salah satu Staf atau Kordinator keamanan perusahaan bernama bapak Luhung saat dikonfirmasi oleh tribunus.co.id pada hari Minggu (18/11/2018) siang mengatakan,bahwa pada tanggal 26 September 2018 pihaknya sudah mengadakan sosialisasi dengan warga yang tinggal dilingkungan perusahaan ,kami ajak kumpul dirumah perangkat dusun ,dan melakukan uji lab limbah yang disaksikan aparat desa dan kepolisian.

Disamping itu kami sampaikan mesin perusahaan kami kapasitasnya masih 25 persen dan masih banyak pembenahan ,serta dalam masa pembelajaran karyawan yang baru.

Kami mengakui belum bisa memenuhi tuntutan warga dengan tepat waktu mas. Karena perusahaan masih beroperasi kurang lebih 2 bulan dan juga terkendala alat serta tenaga"terangnya.

Meski demikian, warga sekitar perusahaan menyayangkan kebijakan dari perusahaan tersebut, karena tidak cepat dan tanggap dengan keluhan keluhan yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi limbah yang di ambil dari saluran pembuangan perusahaan tersebut sangat berpotensi racun, hal ini kami buktikan ikan yang kami masukkan kedalam limbah berjarak 15 menit langsung mati .(har)
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.