-->

Melalui Petunjuk Mimpi Lahir Sebuah Perusahaan Besar Bernama PT Gudang Garam



KEDIRI, TRIBUNUS.CO.ID - Sejarah apapun memang harus tertulis dan dijadikan sebuah catatan penting sebagai pedoman untuk mencapai kesuksesan. Dari berbagai sumber, Sejarah bisa dirangkum dan dijadikan sebuah Karya dan diambil sisi baiknya demi membangun sebuah pemikiran yang positif sehingga mampu menginspirasi seseorang mulai cikal bakal hingga sukses.

Hal ini seperti Sejarah Kesuksesan PT.Gudang Garam Tbk. Kediri yang berawal dari sebuah Mimpi dan kemudian mampu Mendongkrak peningkatan perekonomian puluhan ribu masyarakat.


Butuh keberanian dalam menulis Sejarah apapun. Karya tulis dalam sejarahpun harus bisa dipertanggungjawabkan tingkat kebenarannya menurut Dukut Imam Widodo seorang penulis senior asal Surabaya yang mengaku juga pernah tinggal di Kota Kediri Jatim.

Dukut Imam Widodo ini mengaku sejak tahun 1970 sudah melang lang buana di berbagai daerah dan berhasil melakukan penelusuran untuk membuat puluhan Karya dan mencetak dalam Buku.


Kali ini Dukut Imam Widodo sedang mengajukan hasil penelitian dan juga penelusurannya terkait penulisan Sejarah berdirinya PT.Gudang Garam Tbk. Dia berharap hasil Karyanya bisa diterima dan kemudian dicetak oleh Perusahaan Besar berskala Internasional tersebut.

Dalam penulisannya Dukut yang diundang untuk paparan di acara Gathering PT.GG Tbk bersama Media Kediri bertempat di Hizt Grand Bromo Hotel pada Sabtu Malam, (08/12/2018) menyampaikan, hanya berawal dari sebuah Mimpi, perusahaan PT.GG Tbk yang saat ini mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut terbangun.


Diceritakan dalam paparannya, sesosok anak kecil sekira usia sekitar 3 sampai 4 tahun yang lahir pada 15 Agustus 1923 ini bernama Tjoa Jien Hwie berasal dari Fujian, Republik Rakyat Tiongkok bermigrasi ke Indonesia tepatnya ke Sampang, Madura untuk mengikuti orang tuanya. Menginjak usia remaja, karena hidup di Indonesia, kemudian Tjoa Jien Hwie oleh orang tuanya juga diberi nama Jawa yaitu Suryo Wonowidjojo.


Karena perekonomian saat itu masih dalam kekuasaan Belanda, dan sesudah usai dewasa sekitar lebih dari 20 tahun, Suryo Wonowidjojo mendapatkan tawaran bekerja dari Pamannya di perusahaan rokok Cap 93. Karena kegigihannya dan kerja kerasnya tersebut, kemudian Suryo Wonowidjojo berinisiatif keluar dari perusahaan Pamannya dan ingin mandiri dengan memulai usaha membuat home industri sendiri.

Diawali pada tahun 1956, Suryo Wonowidjojo memilih mengawali usahanya dengan membuka home industri Rokok di wilayah Kecamatan Gurah Kediri dan selanjutnya menyewa lahan seluas sekitar 1000 Meter persegi di Semampir II/1 Kediri milik Suradioso (Muradioso) yang kemudian dari sebuah cerita akhirnya lahan tersebut bisa dimiliki pribadi dibeli.


Lokasi tersebut sekarang disebut unit I. Produksi rokok pertama yang dibuat oleh Suryo Wonowidjojo adalah berbentuk kretek dengan pembungkus kelobot kulit jagung yang diberi nama merek Inghwie. Disela - sela berjalannya waktu, kemudian Suryo Wonowidjojo selalu mendapat mimpi yang terus berulang tentang sebuah bangunan Belanda dipinggir rel kereta api yang dulunya dibuat sebagai gudang uyah (garam).

Setelah bercerita kepada beberapa orang dekatnya, kemudian Suryo Wonowidjojo muncul pemikiran untuk merubah nama perusahaannya dua tahun kemudian tepatnya pada 26 Juli 1958 menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam dengan logo Bangunan gudang dan juga rel kereta api. Untuk merubah nama perusahaan tersebut, Suryo Wonowidjojo yang masih nguri - uri dan mempertahankan Budaya leluhur menggelar syukuran atau selamatan (Kenduri) dengan mengundang beberapa warga sekitar dan juga rekan-rekannya dengan tidak melupakan suguhan rokok kretek klobot hasil karyanya.


Seiring berjalannya waktu, kemudian perusahaan rokok Tjap Gudang Garam mengikuti anjuran pemerintahan pada waktu itu sekitar tahun 1970 dan dirubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) hingga menjadi perusahaan Rokok PT.Gudang Garam dan sekarang menjadi PT.Gudang Garam Tbk yang memperkerjakan puluhan ribu karyawan.

 Kegigihan perjuangan Suryo Wonowidjojo diteruskan oleh 3 Anaknya. Setelah Suryo Wonowidjojo tutup usia pada 29 Agustus 1985 dalam usia 62 tahun, kemudian kendali perusahaan dipegang oleh Rachman Halim Wonowidjojo.


Putra pertama Suryo Wonowidjojo ini pada tahun 2004 pernah tercatat sebagai orang terkaya ke - 4 di Asia Tenggara dan menurut tulisan di Majalah Forbes pada tahun 2005 menjadi orang terkaya dunia pada urutan ke- 214. Namun karena mengalami sakit, akhirnya Rachman Halim dipanggil menghadap Sang Pencipta pada 27 Juli 2008 dengan usianya 60 tahun.


Kini perusahaan Raksasa yang punya andil besar dalam pembangunan Indonesia ini dengan kontribusi perusahaan membayar Cukai ratusan milyar kepada Pemerintah tersebut dilanjutkan kendalinya oleh Adik-adik Rahman Halim yaitu Juni Wonowidjojo dan juga Susilo Wonowidjojo hingga sekarang. Semangat dan kegigihan dari pendiri perusahaan dan anak-anaknya itulah yang patut dijadikan sebuah inspirasi atau motivator bagi kita semua.


Terpisah Kepala Bidang Humas PT.Gudang Garam Tbk. Iwhan Tri Cahyono dalam menyampaikan sambutan di acara Gathering PT.Gudang Garam Tbk bersama Media Kediri di Hizt Grand Hotel Bromo Probolinggo Jatim berharap agar Semangat dan kegigihan kerja keras pendiri perusahaan dan keuletan anak-anak pendiri perusahaan bisa menjadi motivasi bagi karyawan secara khusus dan juga secara luas menjadi sebuah manfaat insipirasi serta motivator bagi rekan-rekan Media. " Sejarah Sangat penting dan kita akan bisa ambil manfaatnya. Karya dari Pak Dukut Iman Widodo tentang Sejarah PT.Gudang Garam Tbk memang sudah diajukan ke perusahaan, namun perusahaan juga perlu pertimbangan untuk mencetak tulisan tersebut menjadi sebuah buku sejarah PT.GG Tbk." ujar Iwhan Tri Cahyono.


Disisi lain, Imam Mubarok atau yang lebih akrab disapa Gus Barok dari perwakilan Media Kediri saat disela sela ngobrol sempat mengatakan dan berharap agar PT.GG Tbk kedepan membangun atau memiliki sebuah Museum tentang sejarah perjalan perusahaan. " Akan pas bila PT.GG Tbk juga membangun atau punya Museum," ujarnya. (har)

0 Komentar

Lebih baru Lebih lama