Nasionalis Regilius Oleh Muhammad Naf'an Shalahuddin






KEDIRI, TRIBUNUS.CO.ID - Ada banyak faktor yang seakan menjadi penyebab mengapa akhir-akhir ini seperti ada pertentangan antara kaum religius versus kaum nasionalis. Atau lebih tepatnya segelintir manusia yang merasa religius dan segelintir manusia yang merasa nasionalis. Semua memiliki dalil pembenaran masing-masing dan tentu saja didukung oleh kondisi psikologis dan historis yang melatar belakangi terjadinya gave tersebut. Yang merasa religius menuduh bahwa kaum nasionalis cenderung abangan dan ‘rodok’ PKI. Yang nasionalis juga menuding bahwa kaum religius itu cenderung kearab-araban dan anti bhineka tunggal ika.

Kedua belah pihak setiap hari memiliki pekerjaan tetap, yaitu saling serang di medsos. Ada juga melalui media masa dan acara-acara tertentu yang memang sudah “dipesan”. Tidak bisa dipungkiri, media juga memiliki andil besar atas kebersatuan ataupun keterpecahan bangsa ini. Entah itu disebabkan karena perbedaan pilihan politik, atau atas dasar kebencian terhadap seseorang maupun kelompok tertentu, persaingan ekonomi, ataukah karena memang ndak mudeng dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Yang pasti tindakan saling menghujat dan membenci bukanlah ajaran agama dan bukanlah mental seorang nasionalis sejati.

Lalu atas dasar keadaan yang terjadi itulah muncul jargon baru dari beberapa ormas, parpol, maupun media yang menyatakan bahwa kami berideologi “nasionalis-religius”. Seakan memberitahukan kepada publik bahwa kami inilah pelopor ideologi tersebut.

Sekarang apabila kita menilik sejarah bangsa kita yang sedemikian panjang ini, tapi ya tidak usah jauh-jauh lah, mari kita belajar kepada pedoman bangsa kita yang bernama “Pancasila”. Sila pertama langsung menyebutkan Ketuhanan yang maha Esa”. Nah, jika makna nasionalis adalah orang yang setia terhadap Pancasila, maka seorang nasionalis wajib berketuhanan yang maha Esa. Syarat utama menjadi seorang nasionalis harus beragama secara sungguh-sungguh, bukan beragama secara KTP saja. Artinya seorang nasionalis sejati adalah orang yang benar-benar religius. Jika tidak religius berarti ia melanggar sila pertama Pancasila dan otomatis tidak layak disebut nasionalis.

Pada sila pertama itulah yang akan menentukan keberhasilan dari sila-sila selanjutnya hingga tercapainya cita-cita bangsa: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Karena jika sila pertama tidak dilaksanakan, tidak mungkin sila kedua akan bisa terealisasikan. Sebab kemanusiaan yang adil dan beradab hanya dapat ditegakkan oleh orang-orang yang teguh dalam beragama. Apalagi sila ketiga dan seterusnya, mustahil bisa ditegakkan oleh orang-orang yang beragama secara abal-abal. Jadi, tidak ada nasionalis yang tidak religius dan tidak ada religius yang tidak nasionalis.

Kedua, kalau mau menjadi pribadi yang religius, misal menjadi seorang muslim yang sejati, maka wajib mencontoh akhlak Rasulullah Saw. Kita tahu bahwa Rasulullah sangat bersyukur dilahirkan di tanah arab dan mencintai tanah airnya. Maka dari itu orang Indonesia yang beragama Islam, juga harus mencintai tanah airnya. Artinya seorang yang religius adalah orang yang nasionalis. So, kenapa harus dibeda-bedakan dan dipertentangkan antara nasionalis dan religius. Dan sekarang sepertinya hendak dipersatukan kembali, wong pada dasarnya sudah merupakan sebuah kesatuan dan “satu paket” sejak awal dibentuknya Pancasila.

Terus terang apabila kita mau menelaah secara teliti dan mendalam isi dari kandungan Pancasila, maka Pancasila itu sangatlah religius dan Islami. Karena seluruh sila-sila tersebut sangat sejalan dengan Al-Quran dan proses lahirnya Pancasila diilhami oleh sejarah dibentuknya Piagam Madinah di era Kanjeng Nabi, yang isi dari pasal-pasalnya bertujuan untuk menegakkan keadilan sosial bagi seluruh warga Madinah dan sekitarnya yang begitu majemuk. 
Tapi ya sudahlah, semua sudah terlajur terjadi.

Tidak perlu mengungkit kesalahan masa lalu dan saling menyalahkan satu sama lain. Masa lalu sudah hilang dan tidak akan kembali lagi. Yang namanya manusia pasti pernah memiliki kesalahan dan tidak ada kebenaran yang tidak berawal dari sebuah kesalahan. Tidak akan ada cahaya jika tidak didahului dengan adanya kegelapan.

Yang terpenting adalah terus selalu berupaya mengadakan perbaikan ke depan. Untuk menuju sebuah kesempurnaan pasti berangkat dari sebuah keterbatasan. Dan untuk menuju kondisi kehidupan berbangsa yang berekadilan sosial, harus berangkat dari manusia-manusia yang berketuhanan secara benar.(har)
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.