Leo Wattimena, Sang Legenda Penerbang Tempur TNI AU

Sebagai penerbang tempur, suka atau tidak suka, Leo yang selalu mengenakan akar bahar di lengan kanannya adalah “legenda”.

Bagi mereka yang hidup sezaman dengan Leo, tentu masih ingat bagaimana beraninya Leo yang diikuti wingman-nya Sudjiatio Adi, terbang menukik dengan MiG-17 seperti mau menghujam ke dasar Sungai Musi, lalu menanjak (pull up) dan terbang menyambar di bawah jembatan Ampera, Palembang.

Bagaimana pula dengan gilanya dan tentu tak kalah bahayanya, Leo menyelip di antara tower dan tiang bendera di Lanud Adisucipto, Yogyakarta.

Kalau terbang straight and level, pasti menabrak. Untuk itu, supaya lolos, ujung sayap yang satu ditariknya ke bawah.


Satu lagi soal kebiasaan. Leo (hampir) selalu melakukan hal yang sama jika take off dengan Mustang. Didorongnya throttle penuh, hingga mesin mencapai daya maksimum, langsung menanjak, lalu pada ketinggian yang masih rendah melakukan roll ke kanan.

“Ini selalu dilakukannya,” ujar Andoko. Celakanya, Musidjan ikut-ikutan. Satu hari, ia lepas landas dari Halim dan melakukan hal yang sama seperti Leo. Tanpa diketahuinya, Rusmin Nurjadin yang rumahnya menghadap landasan, menyaksikan ulah bekas muridnya itu.

Lewat radio, Rusmin segera memerintahkan Musidjan kembali dan menghadap.

“Kamu jangan niru-niru orang gila (Leo) itu. Kalau sekali lagi kamu lakukan, kamu saya jadikan ferry pilot,” bentaknya.

Rusmin beralasan, jika manuver yang dilakukan Leo dilakukan tanpa perhitungan matang, bisa berakibat fatal. Pesawat akan menghunjam ke tanah saat melakukan putaran. “Seperti naas yang menimpa Bagyo di Husein Sastranegara,” tutur Ashadi.

Dalam bahasa Andoko, Leo identik dengan Mustang. Sampai-sampai berangkat kerja dari Bandung ke Jakarta pun, Leo menggunakan Mustang.

Sebagai fighter, Leo pernah memimpin penyerangan perebutan keunggulan udara di Indonesia Timur saat melawan pemberontakkan Permesta, 14 Mei 1958.

Pada saat itu, lima P-51 Mustang ditambah empat pengebom B-25 Mitchell, dikerahkan menggempur markas Permesta di Manado. Ia juga dipercaya menjadi Wakil II Panglima Komandan Mandala, merangkap Panglima Angkatan Udara Mandala, dalam perebutan Irian Barat.


Leo (kanan) sebagai Wakil II Panglima Komando Mandala bersama Mayjen Soeharto, melihat peta Pulau Irian di dalam pesawat saat Operasi Trikora. Foto: Dispenau
Jenderal pertama yang menginjakkan kakinya di bumi Irian Barat ini dikenal sangat tekun dan serius dalam mengemban tanggung jawab.

“Kalau perlu, ia tidak tidur sampai tiga hari,” kenang Kolonel (Pur) Suparno, bekas Kadispenau yang pernah melayani Leo. Sebagai penerbang, ada yang mengatakan, ia sangat menyatu dengan udara. Kalau ia terbang, semua untuk dirinya. Leo terbang tidak lagi dengan raganya tapi dengan jiwanya.

Ketika operasi perebutan Irian Barat tengah hangat-hangatnya, AURI mendapat tugas yang amat berat. Untuk itu, semua kekuatan disiagakan. Mulai dari pesawat pemburu hingga pengebom strategi Tu-16 KS.

Sasarannya adalah kapal-kapal perusak Belanda. Perintah ini turun setelah AURI dituduh Angkatan Laut RI (ALRI) tidak memberikan payung udara, hingga membuat gugurnya Komodor Yosaphat Soedarso di Laut Arafuru, 15 Januari 1962.

Kapten (Pnb) Musidjan, salah seorang penerbang yang diperintahkan Leo, mencari kapal perusak Belanda. Rencananya, begitu Musidjan menemukan kapal Belanda, Leo akan segera memerintahkan Tu-16 KS-1 Badger B, yang telah disiapkan di Morotai.

Lagi-lagi kenangan Musidjan saat Permesta. Hari itu, Ambon di bombardier B-26 Invader Permesta yang diterbangkan Allan Pope, hingga membakar sebuah C-47 Dakota dan Mustang. Padahal Leo dan Musidjan ada di bawah.

Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyembunyikan Mustang di bawah setumpuk daun belarak. Begitu B-26 Permesta pergi, Leo langsung berteriak, ”Mus, ayo kita kejar!”

Tanpa sempat membersihkan daun-daun yang digunakan sebagai kamuflase, pesawat mereka kebut sehingga dedaunan yang masih menempel berhamburan. Sayang Pope sudah terbang jauh dan mereka berdua kehilangan sasaran.

Leo menangis

Hidupnya dicurahkan sepenuhnya untuk terbang. Semangatnya tak pernah pudar. Begitupun sebagai senior, dengan gayanya, Leo selalu mengajarkan dan menunjukkan cara terbang yang baik dan aman.

Semua manuver-manuver yang dilakukannya, menurut Ashadi, calculated, tidak sembarangan.

Sebelum melakukannya di ketinggian rendah, Leo telah menyempurnakannya di ketinggian tinggi, jauh di balik awan. Caranya, seperti pernah diceritakan Ibnoe Soebroto dan Hadi Sapandi kepada Majalah Angkasa, Leo terbang tinggi.

Permukaan awan diumpamakannya sebagai tanah. Teorinya, kalau pesawatnya sampai menyentuh awan, apalagi menembusnya, artinya riwayat hidupnya tamat. Latihan ini dilakukannya berkali-kali, sampai ia betul-betul yakin aman dilakukan on the deck, di ketinggian sangat rendah.

Dalam posisinya sebagai komandan, Leo selalu menunjukkan tanggung jawabnya. Tak peduli risiko mengintai. Itu ditunjukkannya ketika penerbang MiG-21 Fishbed Skadron Udara 12, Sumarsono, jatuh di Kemayoran.

Esoknya Leo dan Rusmin segera turun tangan untuk mengetahui apa yang menyebabkan Sumarsono gugur. Diterbangkannya sendiri pesawat Rusia itu. Baru sekali take off-landing, Leo sudah turun. “Ini pesawat jelek,” komentarnya yakin. “Ia sangat kenal pesawat,” tambah Sobirin Misbach.

Juga ketika Letda (Pnb) Daniel Maukar menghantamkan kanon 23 mm dari MiG-17 ke Istana Merdeka Jakarta, Istana Bogor, dan Cililincing, pada 9 Maret 1960. Sebagai komandan skadron, Leo bertindak cepat.

Sorenya ia bergegas mendatangi rumah Kepala Staf Angkatan Udara Laksamana Udara Suryadarma. Kepada Suryadarma, Leo menyatakan malu atas kejadian tersebut dan siap mengambil tanggung jawab.

“Saya saksikan kejadian itu di rumah,” aku Erlangga Suryadarma, putra Suryadarma. Erlangga menambahkan, saat itu di luar rumah sudah ada beberapa perwira menunggu untuk laporan, namun Leo masuk duluan.

“Le, saya sudah ambil tanggung jawab. Itu kode etik perwira. Kamu mesti ngerti. Saya minta kamu konsolidasi dan jangan sampai terjadi lagi. Itu tanggung jawab kamu, jangan sampai terjadi, make sure, karena bikin malu AURI,” jelas Suryadarma datar dalam bahasa Belanda.

“Untuk kamu ketahui,” lanjutnya, “Saya sudah mundur.” Seperti disambar petir, Leo kaget begitu tahu Suryadarma meletakkan jabatan akibat ulah ketidakdisiplinan anak buahnya.

Jadi, jelas Erlangga, begitu dapat laporan tragedi Maukar, Suryadarma segera ke istana untuk melihat kerusakan yang ditimbulkan. Sesudah itu ia menghadap Presiden Soekarno, mohon maaf dan langsung melepaskan tanda kepangkatan yang menempel di pundaknya.

Dengan kata lain, menyatakan bertanggungjawab atas kejadian itu dengan mundur dari jabatannya sebagai KSAU.

Sambil mengintip dialog antara ayahnya dengan Leo, Erlangga menyaksikan sendiri Leo Wattimena yang dikenalnya galak dan pernah memarahinya ketika coba-coba mendekatinya di atas Mustang-nya, meneteskan air mata.  [beni]
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.