-->

Kisah Sahabat Nabi Zaid Bin Tsabit

Cerita Sahabat Nabi

Orangnya masih belia, seumur anak-anak SD sekarang. Tetapi, Allah ternyata memberikan keistimewaan kepadanya. Ia memiliki kecerdasan dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan semangat berkorban di jalan Islam tak diragukan lagi lekat kepadanya. Rasulullah memberikan penilaian khusus, dan karenanya termasuk di antara sahabat yang paling disayang Nabi SAW. Siapakah dia? Tak bukan dan tak lain ia adalah Zaid bin Tsabit.


Dilahirkan pada tahun 10 sebelum hijrah, atau 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib, Zaid dan keluarganya berasal dari kabilah Bani An-Najjar. Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas.

Suatu ketika, Zaid kecil ditolak Rasulullah bergabung dalam keprajuritan karena usianya yang masih belia. Meskipun kecewa, ia tak lantas putus asa. Untuk mengobati kekecewaannya itu, Zaid mencari aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Jalan itu ia temukan, yakni menghafal dan memperdalam Alquran. Kebetulan, Zaid kecil memang diberi anugerah kelebihan dan ketajaman berpikir. Aktivitasnya ini ia utarakan kepada sang ibu, Nuwair binti Malik. Dengan senang hati, sang ibu pun mendukung penuh. Melalui Nuwair, famili yang lain diberitahu perihal kegiatan anaknya itu. Mereka pun setuju.

Kepada Rasulullah, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal 17 surat Alquran. Bacaannya betul, sesuai yang diturunkan Allah kepada Anda. Selain itu, dia pandai pula membaca dan menulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang dia miliki, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki silakan dengarkan bacaannya.”

Rasulullah pun langsung mendengarkan bacaannya. Benar, ternyata bacaan Zaid sangat bagus dan fasih. Rasulullah gembira lantaran apa yang diucapkan dan didengarnya langsung dari Zaid melebihi dari apa yang dikatakan familinya tersebut. “Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani.

Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut, bila mereka saya diktekan sebagai sekretaris saya,” kata Rasulullah. Anak kecil itu pun menyanggupi tawaran Nabi SAW. Dalam waktu sekejab, bahasa Ibrani ia kuasai. Sejak saat itu, Zaid tampil menjadi sekretaris Nabi SAW sekaligus salah satu pencatat wahyu yang diterima Rasulullah.

Bila wahyu turun, sebagaimana dikutip dalam buku 101 Sahabat Nabi, Rasul memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan Zaid disuruh menulis. Zaid menulis ayat-ayat Alquran langsung dari diktean Rasulullah secara bertahap sesuai urut diturunkannya ayat tersebut. Karena itulah, Zaid bukan saja dikenal sebagai penerjemah dan pencatat wahyu Rasul, ia juga dikenal di kalangan para sahabat sebagai tempat umat Islam bertanya ihwal Alquran sesudah Rasulullah wafat. Selain pada masa Abu Bakar, Zaid juga menjadi ketua kelompok penghimpun Alquran masa kekhalifahan ketiga, Utsman bin Affan.

Khalifah Umar bin Khaththab pun mengakui Zaid sebagai tempat rujukan para sahabat tentang Alquran. Dalam satu kesempatan, Umar berkata, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fikih, temuilah Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya soal harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.”

Berkah keberadaan Zaid tak terbatas pada posisinya sebagai rujukan Alquran. Ia pun sebagai sumber solusi suatu persoalan. Misalnya, suatu ketika umat Islam di Madinah berbeda pendapat ihwal siapa khalifah pengganti Rasulullah. Kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) berkata, “Pihak kami lebih berhak menjadi khalifah.” Sementara kaum Anshar (warga asli Madinah) berkata, “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya.”

Perbedaan pendapat hampir saja memicu konflik fisik. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring. Di tengah meruncingnya masalah itulah, Zaid muncul dan berkata kepada kaumnya, orang-orang Anshar, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnyalah pula kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama.” Setelah mengatakan hal itu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!”

Pelopor Pembukuan Alquran
Di Madinah, ia mempunyai kenangan tersendiri soal kedatangan Rasulullah bersama rombongan. Pada saat menanti kedatangan Rasulullah dan Abu Bakar di Madinah dari Mekkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sering pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang.

Betapa berbunganya hati kaum Muslimin Madinah melihat Rasulullah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada Rasulullah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada Rasulullah untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa.

Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini dapat membantu dan selalu dekat dengan utusan Allah yang ia cintai. Rasulullah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. Rasulullah sangat mencintai sahabat ciliknya. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan Rasulullah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Alquran.

Di samping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima Rasulullah, Zaid juga memperoleh penugasan dari Rasulullah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering digunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai Zaid hanya dalam waktu sangat singkat, 32 hari!

Pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Alquran. Abu Bakar Ra memanggilnya dan mengatakan, “Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan Rasulullah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya.

Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Alquran dan membukukannya.” Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Alquran: “Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak Rasulullah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku.

Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini.”

Akhirnya setelah melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar Ra dan Umar bin Khaththab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Alquran, di antaranya mengingat banyaknya para hafidz Quran yang syahid. Dalam pertempuran “Harb Riddah” (kaum murtad) yang dipimpin Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Alquran menemui syahid.

Dengan pertimbangan-pertimbangan inilah, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk tim khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Jadilah ketiga persyaratan tersebut:

Pertama, ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit dua orang.
Kedua, harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk hardcopy lainnya).
Ketiga, untuk yang tertulis, paling tidak harus ada dua orang saksi yang melihat saat dituliskannya.

Dengan persyaratan tersebut, Zaid bin Tsabit memulai pekerjaan berat ini dan membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa Kekhalifahan Abu Bakar.

Sumber:
-Republika, 29 November 2002

0 Komentar

Lebih baru Lebih lama