Jayapura – Sejumlah tokoh Papua mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang disampaikan kelompok United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).
Masyarakat diminta mencermati setiap informasi yang beredar dengan melihat sumber, konteks, serta kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul rencana pelaksanaan agenda yang berkaitan dengan International Parliament for West Papua (IPWP) di Port Vila, Vanuatu, pada November 2026. Dinamika tersebut dinilai perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat Papua.
Tokoh pemuda Papua Max Abner Ohee mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa berbagai narasi politik mengenai Papua tidak serta-merta mewakili seluruh pandangan masyarakat Papua. Ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah terbawa oleh narasi yang dapat memicu perpecahan.
Menurut Max, persoalan Papua harus dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat serta berbagai perkembangan pembangunan yang berlangsung. Ia menegaskan bahwa Papua memiliki kedudukan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengajak masyarakat untuk menjaga kedamaian serta persatuan.
“Papua adalah Indonesia, hal ini sudah sah dan final,” ujar Max.
Max juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak kehilangan fokus terhadap berbagai persoalan yang lebih langsung menyentuh kehidupan sehari-hari, seperti pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, tokoh Papua sekaligus Ondofolo Yanto Eluay mengatakan masyarakat perlu melihat setiap informasi mengenai Papua secara utuh dan tidak hanya berdasarkan satu sudut pandang. Menurutnya, isu Papua memiliki kompleksitas yang harus dipahami dengan mengedepankan fakta serta kepentingan masyarakat.
Yanto menilai pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur dan perekonomian merupakan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi yang aman dan kondusif sehingga proses pembangunan dapat terus berjalan.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat Papua dapat terus membangun daerahnya dan mempersiapkan generasi muda agar memiliki masa depan yang lebih baik,” kata Yanto.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika masyarakat, namun harus disampaikan melalui cara-cara yang damai dan tidak mengganggu kehidupan sosial.
Pandangan serupa disampaikan tokoh adat dari Keerom Herman Yoku. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan memberikan perhatian terhadap pendidikan serta masa depan generasi muda Papua.
Herman mengatakan masyarakat Papua memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kedamaian di lingkungan masing-masing. Ia mengajak masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling bermusuhan, tetapi sebagai bagian dari proses membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
“Jangan sampai generasi muda menjadi korban dari berbagai kepentingan. Pendidikan dan masa depan anak-anak Papua harus menjadi perhatian bersama,” ujar Herman.
Ketiga tokoh tersebut pada prinsipnya mengajak masyarakat Papua tetap tenang dan tidak reaktif dalam menyikapi berbagai perkembangan politik maupun informasi mengenai Papua.
Masyarakat juga diharapkan meningkatkan literasi informasi dengan melakukan verifikasi terhadap sumber berita dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Sikap kritis dalam menerima informasi dinilai penting untuk mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan sekaligus menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dengan mengedepankan kedamaian, persatuan dan kepentingan masyarakat, dinamika mengenai Papua diharapkan dapat disikapi secara dewasa tanpa menimbulkan konflik maupun gangguan terhadap kehidupan masyarakat.

Admin 081357848782 (0)