JAKARTA, 7 Oktober 2026 – Takeda bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan pentingnya donor plasma dalam mendukung perawatan pasien. Upaya ini dilakukan dalam momentum International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 yang berlangsung pada 5–9 Oktober 2026 dengan tema global “Plasma Powers Possibility”.
Selama ini, masyarakat Indonesia lebih mengenal donor darah dibandingkan donor plasma. Padahal, plasma merupakan komponen penting dalam darah yang dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP) untuk membantu perawatan pasien dengan berbagai kondisi medis.
Berbeda dengan obat yang diproduksi melalui proses sintetis, plasma berasal dari manusia sehingga ketersediaannya bergantung pada kontribusi donor dan sistem pengambilan plasma yang aman serta andal. Oleh karena itu, keberlanjutan ketersediaan PODP membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari donor, pengambilan dan pengolahan plasma, hingga layanan kesehatan bagi pasien.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem plasma nasional.
“Penguatan ekosistem plasma Indonesia dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, dan industri. International Plasma Awareness Week 2026 menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mendorong upaya bersama tersebut,” ujarnya.
Ketua Umum Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) dan Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menambahkan bahwa PODP memiliki peran penting dalam penanganan pasien dengan kelainan darah dan kondisi medis tertentu.
Menurutnya, pasien yang membutuhkan terapi tersebut memerlukan pengobatan jangka panjang dan berkelanjutan. Karena itu, penguatan ekosistem plasma diperlukan untuk mendukung ketersediaan PODP yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan serta didukung bukti klinis yang memadai.
Dalam konteks penguatan sistem kesehatan nasional, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., juga menekankan pentingnya menghubungkan penguatan ekosistem plasma dengan kebutuhan pasien.
“Produk Obat Derivat Plasma (PODP) dapat berperan penting dalam perawatan berkelanjutan bagi pasien dengan kondisi seperti hemofilia dan imunodefisiensi primer. Melalui International Plasma Awareness Week 2026, kami berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma, peran donor, serta keterkaitan kontribusi setiap individu dengan kebutuhan pasien, sekaligus mendorong kolaborasi yang lebih kuat untuk memperkuat tatalaksana pengobatan dengan PODP,” ungkap Nadia.
Edukasi Plasma dan Pentingnya Donor
Peningkatan pemahaman masyarakat dimulai dengan mengenal plasma, proses pengambilannya, serta manfaatnya bagi perawatan pasien.
Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K), menjelaskan bahwa plasma mencakup sekitar 55 persen volume darah dan mengandung berbagai protein penting, termasuk albumin, antibodi, serta faktor pembekuan.
“Berbeda dengan donor darah utuh, dalam pengambilan plasma menggunakan alat apheresis, plasma dipisahkan dari komponen darah lainnya, dan komponen lain tersebut dikembalikan ke tubuh donor plasma. Plasma yang terkumpul kemudian dapat diolah menjadi berbagai produk terapi untuk membantu pasien dengan kondisi medis tertentu, termasuk hipoalbuminemia, gangguan perdarahan, dan imunodefisiensi,” jelasnya.
Ia menambahkan, edukasi mengenai plasma dan proses pengambilannya perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pemahaman tentang kontribusi donor dalam mendukung perjalanan perawatan pasien.
Ketua Bidang Pengembangan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, dr. Linda Lukitari Waseso, turut menekankan pentingnya keberadaan donor yang memenuhi persyaratan, praktik pengambilan plasma yang aman, serta layanan darah dan plasma yang memadai.
Kolaborasi antara layanan darah dan plasma dengan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk mendukung ketersediaan plasma dan penanganan pasien yang membutuhkan PODP.
Dari perspektif komunitas donor, Kepala Komunikasi dan Informasi Yayasan Laskar Aferesis Berbagi (YLAB), Mila Rahmania, menilai bahwa pemahaman masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mendorong partisipasi yang berkelanjutan.
“Banyak orang terdorong untuk berkontribusi ketika memahami untuk apa kontribusi mereka dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, membangun partisipasi yang berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat untuk berdonor, tetapi juga dengan membantu mereka memahami kontribusinya, memastikan mereka mendapatkan pengalaman donor yang baik, dan merasa dihargai melalui apresiasi yang tepat,” ujarnya.
Menurut Mila, komunitas donor juga berperan dalam menyampaikan informasi yang akurat, meluruskan kesalahpahaman, serta membangun komunikasi dengan komunitas pasien, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya agar informasi mengenai plasma lebih mudah dipahami masyarakat.
Ketersediaan PODP Penting bagi Pasien
Bagi pasien dengan kondisi medis tertentu, ketersediaan PODP secara berkelanjutan merupakan bagian penting dari perjalanan perawatan dan upaya menjaga kualitas hidup.
Plt. Bidang Layman dan Wakil Ketua Bidang Finance Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), Yusnidar Patah, yang juga merupakan penyandang hemofilia B berat, menyoroti pentingnya penanganan yang tepat waktu dan berkelanjutan bagi penyandang hemofilia, termasuk tantangan dalam memperoleh perawatan di berbagai wilayah Indonesia.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem plasma yang mampu mendukung keberlanjutan ketersediaan terapi bagi pasien di Indonesia.
Hal serupa disampaikan Ketua Yayasan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia (YPIPI), Dimas Adhi Sugiharto. Ia menjelaskan bahwa imunoglobulin merupakan terapi rutin yang dibutuhkan pasien imunodefisiensi primer untuk membantu menjaga kondisi kesehatan dan mengurangi risiko infeksi berat berulang.
“Bagi pasien Imunodefisiensi Primer, imunoglobulin bukan sekadar terapi pendukung — ini adalah terapi yang kami butuhkan secara rutin agar bisa tetap hidup sehat. Tanpa terapi ini, pasien sangat rentan terhadap infeksi berat yang berulang, yang dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis bahkan mengancam jiwa,” kata Dimas.
Ia menambahkan, ketersediaan imunoglobulin sangat bergantung pada plasma. Tantangan yang dihadapi pasien tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan terapi, tetapi juga keterjangkauan dan akses yang berkesinambungan.
“Karena itu, pasokan plasma yang berkelanjutan sangat berarti bagi kami — inilah yang memastikan pasien Imunodefisiensi Primer bisa terus menjalani pengobatan dan hidup sehat seperti orang lain,” lanjutnya.
Pengalaman para pasien tersebut menegaskan bahwa penguatan ekosistem plasma membutuhkan kontribusi berbagai pihak, termasuk pemerintah, layanan kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor plasma, serta industri.
Takeda Dukung Penguatan Ekosistem Plasma di Indonesia
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem plasma, Takeda memanfaatkan pengalaman dan keahlian globalnya dalam pengumpulan dan pengolahan plasma untuk mendukung pengembangan infrastruktur plasma di Indonesia.
Melalui jaringan BioLife di berbagai negara, Takeda akan mendukung pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.
Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa PODP memiliki peran penting dalam mendukung perawatan pasien dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa.
“Di Indonesia, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan mendukung pengembangan ekosistem plasma yang berkelanjutan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan. Dengan pengalaman dan keberadaan Takeda di Indonesia, kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung prioritas kesehatan jangka panjang Indonesia,” ujarnya.
Sejalan dengan tema “Plasma Powers Possibility”, IPAW 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bahwa perjalanan plasma, mulai dari kontribusi donor, pengambilan dan pengolahan plasma, hingga pemanfaatannya sebagai PODP dalam perawatan pasien, merupakan rangkaian yang saling terhubung.
Melalui edukasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor, penguatan ekosistem plasma Indonesia diharapkan dapat mendukung keberlanjutan ketersediaan PODP, memperkuat ketahanan sistem kesehatan, serta membantu memenuhi kebutuhan perawatan pasien di Indonesia.

Admin 081357848782 (0)