Anak Petani Karet Di Sumsel STOP Melanjutkan Kuliah Karena Tidak Punya Biaya

PALEMBANG,TRIBUNUS.CO.ID - Anjloknya harga komoditas karet sangat berdampak bagi kelangsungan hidup petani di berbagai daerah khususnya di Sumsel, bahkan sebagian ‘toke' dan petani di Sumsel sejak beberapa tahun belakangan ini mengaku", tak sanggup lagi membiayai kuliah anak-anak mereka.

Tak sedikit dari anak-anak petani karet di Sumsel yang terpaksa harus menyetop aktivitas kuliah anak mereka karena sumber pendapatan dari hasil motong karet yang ia miliki sudah tidak mencukupi lagi untuk biaya kuliah dan biaya kehidupan anak-anaknya yang merantau saat kuliah.

Wak Eni, warga kabupaten banyuasin, keluhkan, entah harga karet semaunya saja turun dan turun tanpa ada alasan yang masuk akal dari orang (bos pembeli karet) pabrik kalau bisa di cakap kenapa harga karet ini tidak disubsidi saja oleh pemerintah sementara petani karet yang terbesar inikan di kita Sumsel.

Inilah, sekarang ini Pemerintah bukannya mau mencari solusi untuk masyarakat petani karet eh malah apa yang menjadi hak petani karet saja di libas habisnya seperti bantuan Pupuk untuk masyarakat petani karet di Kabupaten Banyuasin tahun 2019 ini kan ada dari provinsi kalu dak salah sebesar 2,5 M sampai sekarang tidak ada, Tebing Abang Kamis, 25/07/19.

Lebih jelas baca berita di bawah ini ;

Dikeluhkan juga oleh warga Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) John Kaiser, petani karet asal Kabupaten Musi Banyuasin ini mengaku dirinya terpaksa menyetop kuliah anak sulungnya yang sudah duduk di semester V (lima) di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang. 

“Ini terpaksa dilakukan karena biaya kuliah dan biaya hidup saat kuliah di Palembang terus bertambah besar, sementara penghasilan dari bertani karet tidak lagi mencukupi,” ungkapnya kepada awak media tribunus.co.id.

Baca juga berita di bawa ini :

Dikatakan, kondisi anjloknya harga karet sejak dua tahun belakangan membuat dirinya terpaksa mengajak putra sulungnya untuk mengikuti jejaknya bekerja di kebun karet. “Apalagi harga karet sekarang per kilogramnya hanya Rp7 ribu,” keluhnya.

John mengaku, untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari anaknya kuliah dirinya setiap bulan harus menyisihkan uang Rp5 juta. “Itu selain untuk biaya kos, juga biaya makan. Belum lagi kalau ditambah biaya pembelian buku dan keperluan lainnya, karena sudah tak sanggup lagi dengan berat hati anak saya harus DO (drop out, baca) dari kuliah,” ungkapnya lagi.

Senada juga dialami Gun (56), petani karet asal Lempuing Kabupaten OKI ini mengaku harus menyetop aktivitas perkuliahan anak perempuannya pada 2018 lalu karena sudah tidak mampu lagi membiayai aktivitas perkuliahan dan biaya hidup di Palembang. “Anak saya terpaksa DO saat semester tiga, sekarang anak saya ikut kerja honor mengajar di SD,” ujar Gun.

Tidak hanya itu, bahkan sejak harga karet anjlok dirinya bersama istri harus mencari tambahan dengan bekerja sebagai buruh harian lepas di pabrik. “Kalau dari sumber pendapatan karet saja tidak cukup lagi, saya dan istri harus mencari tambahan lain untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Sementara itu, tidak hanya anak dari petani karet yang terkena imbas dari anjloknya harga tetapi juga sebagian petani sawit juga mengalami hal serupa dengan terpaksa harus menyetop aktivitas kuliah anak mereka karena harga sawit yang terus merosot. Seperti dialami Mulyadi (47) petani sawit asal Kabupaten Muratara ini juga terpaksa harus menyetop anaknya kuliah pada 2017 lalu. “Awalnya anak saya itu stop out, tetapi karena sudah tidak lagi bisa dibiayai terpaksa harus drop out,” ucapnya.

Mulyadi menyebutkan, kondisi harga komoditas sawit saat ini benar-benar anjlok per kilogram hanya Rp150 rupiah jauh dari harga normal yang berkisar Rp 600-700/kg. “Saya berharap harga sawit naik atau kembali normal,” pungkasnya.

Pewarta : dtksm/rn
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.