Jakarta, 23 April 2026 – Gerakan Sinergi Aksi Perusahaan (SIAP) Lawan Dengue yang digagas KADIN bersama PT Takeda Innovative Medicines dan PT Bio Farma, serta didukung Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Ketenagakerjaan RI, dan PERDOKI, kembali menegaskan pentingnya perlindungan tenaga kerja dari risiko dengue sebagai bagian dari keberlangsungan bisnis.
Sejak diluncurkan pada 2024, gerakan ini mendorong dunia usaha melihat dengue bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga risiko nyata bagi produktivitas dan operasional perusahaan. Hingga 14 April 2026, tercatat 30.465 kasus dengue di Indonesia dengan 79 kematian, yang banyak menyerang usia produktif.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan dengue masih menjadi tantangan serius sehingga pencegahan harus dilakukan terintegrasi melalui edukasi, pengendalian vektor, dan kolaborasi lintas sektor. “Pendekatan seperti SIAP Lawan Dengue mendukung upaya nasional menuju pengendalian yang lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, M. Yusuf menyebut dengue kini menjadi bagian dari isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Ia menekankan pentingnya langkah sistematis perusahaan melalui sanitasi lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk, serta edukasi pekerja, termasuk bagi sektor informal, guna menjaga produktivitas.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan dengue dapat menyerang siapa saja dan berdampak luas, sehingga kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui langkah nyata di tempat kerja. “Perusahaan memiliki peran penting sebagai titik awal perlindungan karyawan,” katanya.
Wakil Ketua Umum KADIN, Shinta Widjaja Kamdani, menambahkan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menciptakan lingkungan kerja sehat. “Kesejahteraan karyawan adalah fondasi keberlanjutan perusahaan,” tegasnya.
Ketua PERDOKI, dr. Agustina Puspitasari, menekankan pentingnya upaya preventif termasuk imunisasi, edukasi, dan pengendalian risiko di lingkungan kerja agar pekerja tetap sehat dan produktif.
Sementara itu, Raditya Dika mengingatkan dengue bukan penyakit sepele karena dapat mengganggu aktivitas dan berdampak luas. Ia menilai pencegahan adalah investasi untuk menjaga masa depan diri, keluarga, dan tim kerja.
Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, mengapresiasi gerakan ini sebagai langkah melindungi pekerja dari ancaman dengue, mengingat beban nasional yang besar dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap pada 2024 dan pembiayaan hampir Rp3 triliun. Ia menargetkan kolaborasi lintas sektor mampu mendorong nol kematian akibat dengue pada 2030.
Tahun ini, SIAP Lawan Dengue juga meluncurkan platform terpadu untuk memudahkan perusahaan mengakses layanan kesehatan dan memperkuat upaya pencegahan. Hingga kini, lebih dari 60 perusahaan telah terlibat, termasuk Danone Indonesia, dengan berbagai program edukasi, pengendalian lingkungan, dan perlindungan kesehatan karyawan.
Gerakan ini diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan mengambil langkah nyata sehingga pencegahan dengue menjadi gerakan bersama yang berdampak luas bagi masyarakat dan dunia usaha.

Admin 081357848782 (0)