Mahatma Gandhi - Manusia Bijak Dari Timur




Handoko Widagdo


Judul: Gandhi – Manusia Bijak Dari Timur

Penulis: Wied Prana

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: Garasi

Tebal: 186

ISBN: 978-979-25-4747-4



Banyak buku tentang Mahatma Gandhi dalam Bahasa Indonesia. Namun buku ini berbeda dari buku-buku tentang Gandhi yang terbit dalam Bahasa Indonesia. Hampir semua buku tentang Gandhi dalam Bahasa Indonesia biasanya berisi tentang puja-puji saja. Biasanya hanya membahas tentang kehebatan Gandhi dan ke-mahatma-an Gandhi.

Buku ini menarik karena menggambarkan perjalanan Gandhi dari seorang biasa menjadi seorang yang sangat dikagumi di India dan di seluruh dunia. Lebih menarik lagi, buku ini juga memuat pihak-pihak yang tidak setuju dengan pandangan Gandhi dan bahkan rela membunuhnya. Bagian akhir dari buku ini menjelaskan secara cukup dalam tentang ajaran-ajaran Gandhi yang dikagumi oleh banyak pihak.

Menarik sekali buku ini menggunakan Bapu sebagai kata ganti Gandhi secara konsisten dari awal sampai akhir. Bapu adalah panggilan untuk seorang ayah bagi masyarakat pedesaan di India. Pemilihan istilah Bapu ini menunjukkan bahwa penulisnya ingin memposisikan Gandhi sebagai seorang biasa.

Marilah pertama-tama kita periksa upaya penulis untuk menggambarkan bagaimana perjalanan Gandhi sampai kepada perjuangannya memerdekakan India. Gandhi digambarkan sebagai anak dari keluarga biasa saja. Keluarga Gandhi bukan keluarga kaya, tetapi juga tidak miskin. Keluarga Gandhi memegang teguh tradisi-tradisi, sehingga Gandhi sudah dinikahkan pada saat ia baru berumur 13 tahun. Peran saudara lelaki Ghandi, ayah, ibu dan istrinya digambarkan secara sekilas. Namun sayang penggambaran yang sekilas ini membuat peran keluarga Gandhi kurang terekspose dalam membentuk Gandhi dewasa. Apakah memang keluarganya tidak terlalu berperan?

Bagian bagaimana Gandhi berada di Afrika Selatan sangatlah bagus. Sebab pada bagian ini dijelaskan secara detail bagaimana Gandhi mengalami diskriminasi saat naik kereta api. Gandhi dipaksa untuk pindah gerbong dan bahkan ditinggal di sebuah stasiun. Penulis juga sangat berhasil menggambarkan bagaimana Gandhi memprakarsai perjuangan kesamaan hak orang-orang India di Afrika Selatan. Di Afrika Selatan inilah Gandhi menemukan metode perlawanan nirkekerasan - Ahimsa.

Buku ini juga sangat berhasi menggambarkan bagaimana evolusi perjuangan Gandhi dalam menghadapi Inggris saat ia memasuki politik di India. Melanjutkan metoda-metoda yang dipakainya di Afrika Selatan, Gandhi mulai mengorganisir kemerdekaan India dari Inggris. Selain menggunakan ahimsa dan puasa, Gandhi menemukan cara pembangkangan melalui Kampanye Garam. Upaya untuk memproduksi garam sendiri (yang saat itu dilarang oleh peraturan di bawah Inggris) sebagai bentuk pembangkangan ternyata diikuti oleh banyak penduduk India. Inggris sampai kewalahan menghadapi pembangkangan ini. Ahimsa, puasa dan pembangkangan damai menjadi senjata perjuangan Gandhi.

Perjuangan Gandhi tidak selalu mulus. Meski banyak yang rela menerima penderitaan, namun kadang pengikut Gandhi tidak tahan untuk tidak bergolak yang berakibat kepada pembantaian oleh tentara Inggris. Seperti kejadian di Amritsar tanggal 13 April 1919. Tentara Inggris secara brutal menyerang mereka yang sedang melakukan rapat akbar di sebuah gedung. Kerelaan untuk menerima derita ini tentu saja mempunyai akar kepada Agama Hindu. Karena Gandhi menggunakan ajaran-ajaran yang dipercayai oleh rakyatnya, yaitu ajaran-ajaran penuh damai dan berani menanggung penderitaan, maka perjuangannya mendapatkan banyak dukungan.

Perjuangan Gandhi berhasil memerdekakan India dari Inggris. Namun Gandhi tidak berhasil mencegah perpecahan India karena faktor agama. Pemisahan India Muslim (Pakistan) dan India Hindu menyebabkan penyiksaan dan pengusiran orang-orang Islam di bagian India dan demikian juga dengan orang-orang Hindu yang bermukim di wilayah Pakistan. Gandhi yang terus berupaya untuk mempersatukan India dengan berpuasa dan menganjurkan orang-orang Hindu untuk menahan diri ternyata tidak berhasil.

Dalam sebuah rapat akbar, Gandhi ditembak. Ia ditembak oleh Nathuram Vinayak Godse. Godse adalah seorang Hindu taat dan pengikut Gandhi. Tetapi kemudian ia merasa bahwa Gandhi terlalu mengorbankan orang-orang Hindu dalam perjuangannya. Godse menganggap bahwa Gandhi membela Muslim. Godse tidak pernah menyesal telah membunuh Gandhi. Demikian juga dengan Gopal Godse yang dipenjara karena berkomplot dengan Nathuram Vinayak Godse.

Persoalan India-Pakistan ini tak pernah selesai bahkan sampai saat ini.

Buku ini memuat pembelaan Nathuram Vinayak Godse dan wawancara dengan Gopal Godse untuk menjelaskan mengapa justru orang Hindu yang membunuh Gandhi. Memuat secara penuh pembelaan dan wawancara adalah cara yang baik supaya pembaca bisa menilai sendiri apakah pembunuhan itu bisa dibenarkan atau tidak.

Di bagian akhir, buku ini menjelaskan cukup dalam tentang ajaran-ajaran Gandhi yang dikagumi oleh orang-orang India dan masyarakat dunia. Ajaran utama Gandhi adalah Ahimsa (nir-kekerasan), satyagraha dan tujuh dosa sosial. Ahimsa dan Satyagraha sudah banyak dikenal. Tapi tujuh dosa sosial mungkin belum banyak yang tahu. Maka saya cantumkan disini apa saja yang dimaksud oleh Gandhi sebagai tujuh dosa sosial: (1) Politik tanpa prinsip, (2) Kekayaan tanpa kerja, (3) Kegiatan ekonomi tanpa etika moral, (4) Kenikmatan tanpa Nurani, (6) Ilmu pengetahuan tanpakemanusiaan dan (7) Ibadah tanpa pengorbanan.

Bapu memang seorang Mahatma.   (indonesiana.tempo)
Loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.