Natalius Pigai Lawan Rasisme, Pemerintah Jangan Munafik

Foto aksi demo selama tujuh hari di Papua
JAKARTA,TRIBUNUS.CO.ID - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Papua, Natalius Pigai merespon aksi demonstrasi rakyat Papua yang mengecam rasisme terhadap masyarakatnya berlangsung hingga tujuh hari berturut-turut tapi pemerintah pusat menutupi ini semua Pemerintah tidak usah munafik.

Pigai, menjelaskan bahwa, melalui aksi demonstrasi yang berlangsung sekarang ini secara serentak di berbagai wilayah di Papua, seperti Wamena, Deiyai, Dogiyai dan Paniai, rakyat Papua menunjukkan komitmennya untuk melawan rasisme yang selama ini sudah seringkali bahkan selalu terjadi di berbagai tempat di NKRI khususnya terjadi pada masyarakat Papua.
Baca di bagian ini :

Mungkin pada kesempatan ini terjadi pada masyarakat Papua hingga muncul protes keras dengan cara aksi demo di berbagai tempat di Papua, "mungkin besok atau lusah di tempat lain di dalam NKRI muncul lagi aksi protes keras yang lebih besar lagi sepanjang Pemerintah tidak dapat memberikan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tepatnya silah kelima dari Pancasila ini suatu ancaman bagi keutuhan NKRI.
Baca juga terjadinya rasisme di berbagai daerah lain di NKRI ini :https://www.tribunus.co.id/2019/07/di-kabupaten-banyuasin-runtuhnya-hukum.html?m=1
"Perlawanan dan anti rasisme yang dilakukan masyarakat Papua sekarang ini sudah berlangsung aksi demo selama 7 hari berturut-turut tiada henti dengan semangat yang tinggi masyarakat Papua menunjukkan pada dunia Internasional bahwa masyarakat Papua anti rasisme.

"Tetapi jakarta menutupi. Pemerintah jangan munafik lah sekarang ini rakyat sudah melawan dan akan terus melawan karena anti rasialisme adalah semangat mainstream dunia internasional," kata Pigai lewat akun WhatsApp pribadinya Senin (26/08/2019).

Mantan Komisioner Komnas HAM RI itu menegaskan, Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang masih tersisa dan menerapkan politik segregasi rasial di Dunia pada abad ke 21. 

"Perlawanan terhadap rasialisme adalah perang tanpa titik dan koma (infinity war)," tegasnya. 

Seperti diketahui, selama beberapa hari terakhir Tanah Papua diwarnai sejumlah aksi demonstrasi. Bahkan, Kota Manokwari Papua Barat pada Senin (19/8/2019) lalu, sempat lumpuh akibat blokade massa. Baca di bagian ini :

Selain menutup jalan utama, para pendemo juga membakar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat.

Aksi tersebut, dipicu oleh adanya tindakan rasisme dan represif oknum Organisasi Masyarakat (Ormas) dan aparat penegak hukum terkait penangkapan 43 mahasiswa asal Papua, lantaran diduga menjatuhkan bendera merah putih yang ada di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Pewarta : rn

Artikel Terkait

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.